Tiga Cara Penyampaian Pesan Moral dalam Karya Fiksi Kelas 8 Kurikulum Merdeka
Hal utama yang harus diingat ketika menulis karya fiksi adalah alasan orang ingin membacanya. Pembaca karya fiksi pada dasarnya mencari hiburan. Bayangkan betapa kecewanya seseorang yang ingin menikmati cerpen, tetapi justru menemukan tulisan yang terasa seperti catatan khotbah lengkap dengan petuah langsung dan ayat-ayat kitab suci. Alih-alih menghibur, hal itu justru membuat pesan moral terasa hambar, klise, bahkan mengganggu.
Namun, menyajikan hiburan bukan berarti karya fiksi tidak boleh mengandung nasihat atau pesan moral. Pesan moral tetap bisa disampaikan secara halus dan bermakna. Salah satu penulis yang sangat piawai dalam hal ini adalah J.R.R. Tolkien, yang sering dijuluki sebagai Bapak Sastra Fantasi Dunia.
Berikut ini tiga cara yang digunakan Tolkien untuk menyampaikan nilai-nilai moral tanpa menggurui pembacanya.
1. Menyampaikan Pesan Moral Melalui Tokoh
Pesan moral dapat disampaikan melalui karakter atau tokoh dalam cerita. Setiap tokoh mewakili nilai-nilai tertentu yang tercermin dari sikap, pikiran, dan tindakannya.
Perhatikan bagaimana Tolkien menggambarkan nilai belas kasih melalui tokoh Sam Gamgee menjelang akhir kisah The Return of the King dalam trilogi The Lord of the Rings. Sam berada pada posisi yang sangat wajar untuk membalas dendam kepada Gollum. Namun, Tolkien tidak pernah menuliskan secara langsung bahwa Sam adalah tokoh yang penyayang. Ia hanya menggambarkan konflik batin Sam, perasaan iba yang muncul, dan keputusan yang akhirnya diambil.
Pembaca dibiarkan menafsirkan sendiri bahwa Sam adalah sosok yang penuh belas kasih, bahkan kepada makhluk yang telah mengkhianatinya. Inilah kekuatan penyampaian pesan moral melalui tokoh.
2. Menyampaikan Pesan Moral Melalui Dialog Antartokoh
Cara berikutnya adalah melalui dialog. Percakapan antartokoh sering kali menjadi sarana efektif untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan.
Dialog antara Bilbo Baggins dan Thorin Oakenshield yang sekarat dalam The Hobbit mengandung pesan moral yang sangat kuat. Melalui percakapan tersebut, pembaca dapat menangkap nilai tentang persahabatan, penyesalan, dan kesadaran bahwa harta bukanlah segalanya.
Thorin menyadari bahwa makanan, nyanyian, dan kebersamaan jauh lebih berharga daripada emas dan permata. Tolkien tidak memaksa pembaca untuk menerima satu kesimpulan tertentu, melainkan memberi ruang agar pembaca menemukan makna sendiri dari dialog tersebut.
3. Menyampaikan Pesan Moral Melalui Jalinan Cerita
Pesan moral juga dapat disampaikan melalui alur cerita secara keseluruhan. Dalam cara ini, penulis cukup bercerita dengan baik, karena jalan cerita itulah yang akan “berbicara” kepada pembaca.
Dalam trilogi The Lord of the Rings, pembaca dapat menemukan nilai persahabatan, kesetiaan, keberanian, dan kegigihan yang muncul secara alami melalui rangkaian peristiwa yang dialami Frodo dan kawan-kawannya. Nilai-nilai tersebut tidak pernah dijelaskan secara langsung, tetapi tumbuh dari pengalaman para tokohnya.
Penulis pemula pun dapat meniru cara ini: cukup ceritakan kisah yang menarik dan biarkan nilai-nilai moral yang diyakini mengalir melalui peristiwa-peristiwa di dalam cerita.
Itulah tiga cara dari sekian banyak teknik yang digunakan Tolkien untuk menyampaikan pesan moral dalam karya fiksi. Teknik ini memang tidak mudah, tetapi sangat mungkin untuk dipelajari.
Satu hal penting yang harus selalu diingat: jangan pernah menyampaikan pesan moral secara eksplisit. Hal itu justru dapat merusak kenikmatan membaca. Sebaliknya, buatlah cerita yang menarik, tokoh yang hidup, dan alur yang kuat. Dengan begitu, pesan moral akan tersampaikan dengan sendirinya kepada pembaca.
Sumber: https://pelitaku.sabda.org/tiga_cara_penyampaian_pesan_moral_dalam_karya_fiksi
Komentar
Posting Komentar